Stimulasi dan Kecerdasan Anak
Siapa yang tidak ingin mempunyai anak yang cerdas. Semua orang tua pasti mendambakannya. Anak cerdas berarti anak yang mempunyai masa depan, anak yang bisa diandalkan dikemudian hari. Seperti apakah anak cerdas tersebut?
Menurut Dr Arief Rahman, anak cerdas berarti adalah anak yang mempunyai kemamuan mengolah, sehingga dapat mengerti perbedaan, membuat daftar prioritas, menyelesaikan masalah, membentuk jaringan, mengasosiakannya dan bisa mempunyai daya ingat yang kuat. Kemudian juga mempunyai kemampuan untuk percaya, berpegang teguh pada prinsip, dan banyak lagi kemampuan yang lain.
Sementara menurut Ery Soekresno, Psi pakar pendidikan anak berarti adalah anak yang mempunyai kecerdasan sosial, kecerdasan hati dan kecerdasan akademis. Hampir senada dengan Ery Soekresno, Kak Seto Mulyadi, tokoh yang sudah sangat dikenal dekat dengan dunia anak-anak dan pendidikan, mengartikan anak cerdas adalah anak yang mempunyai kecerdasan logika, kecerdasan perasaan dan kecerdasan nuraninya.
Pertanyaannya bisakah kita menciptakan anak cerdas? Bukankah kecerdasan itu datangnya dari Tuhan dan kita hanya bisa mensyukuri apan yang telah diberikan Tuhan kepada kita.
Beruntung kecerdasan yang diberikan Tuhan ternyata bukan harga mati, melainkan dapat diupayakan. Menurut Dr. Bernard Devlin dari Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburg, AS, memperkirakan faktor genetik cuma memiliki peranan sebesar 48% dalam membentuk IQ anak. Sisanya adalah faktor lingkungan. Tentu lingkungan yang paling dekat dengan anak adalah orang tua. Bagaimana orang tua berperan atau memberikan stumulasi kepada anaknya menjadi foktor penentu. Seperti apa stimulasi yang tepat untuk anak? Tidak lain adalah yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Dengan begitu stimulasi yang diberikan bisa sesuai dengan kemampuan anak tanpa memaksa ataupun membebaninya.
Beragam bentuk kecerdasan yang perlu dikembangkan, mengharuskan stimulasi yang beragam pula. Salah satu yang utama adalah stimulasi motorik. Alasannya, perkembangan motorik anak usia balita sangatlah pesat, terutama motorik kasar. Asal tahu saja, perkembangan motorik di usia balita terkait erat dengan perkembangan fisik dan rasa percaya diri.
Stimulasi motorik kasar:
- Mengajarkan anak mengontrol keseimbangan misalnya ketika berjalan, berlari, berputar, dan berhenti. Hal tersebut bisa diintegrasikan menjadi games menyusuri jalan setapak yang dikelilingi "jurang".
- Melatih dengan mengajaknya main lompat ke atas, ke depan, dan sebagainya. Lakukan menggunakan dua kaki dan satu kaki secara bergantian.
- Latih keberanian, koordinasi gerak, keseimbangannya dengan cara memanjat tangga atau pohon, misalnya.
- Berlatih mempertajam gerak refleks dengan melakukan permainan tangkap dan lempar bola.
- Mengajak anak bergerak dan menari mengikuti irama sangat baik untuk melatih harmonisasi anak sehingga bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
- Berenang sangat baik dilakukan anak untuk melatih banyak hal dalam dirinya, seperti kekuatan fisik, keberanian, mengukur kemampuan, dan sebagainya
Stimulasi motorik halus:
- Melipat. Untuk bisa melakukan aktivitas ini butuh kesabaran dan kehalusan diri. Melipat kertas, terlebih sampai membuat sebuah karya, takkan berhasil atau maksimal hasilnya jika dilakukan secara tergesa-gesa, tak bisa tenang dan tak memiliki kehalusan diri.
- Menggambar dengan krayon. Keseimbangan diri secara emosional dan psikis bisa dilatih dengan cara menggambar. Aktivitas ini juga membantu anak untuk melatih mengeskpresikan diri.
- Main lilin/dough. Permainan ini sangat membantu mengasah kreativitas anak. Selain ketelitian dan kesabaran serta jiwa seni bisa didapat anak lewat permainan ini.
- Finger painting. Melukis dengan jari melatih pengembangan imajinasi, memperhalus koordinasi motorik halus, dan mengasah rasa seni, khususnya seni rupa.
- Meronce yang bisa melatih konsentrasi selain melatih ketajaman koordinasi mata dan tangannya.
- Melukis dengan cat air. Manfaatnya hampir sama dengan melukis menggunakan krayon. Hanya saja cat air aman digunakan oleh anak usia 4-5 tahun.
- Tracing (mengikuti titik-titik yang berbentuk gambar/huruf/angka). Kegiatan ini baik dilakukan oleh anak kelas TK A dan B. Pasalnya, kegiatan ini merupakan pelajaran menulis permulaan sekaligus melatih konsentrasi anak.
Stimulasi lainnya yang diperlukan adalah stimulasi kognitif, efeksi dan spiritual.
WTARSONO, dari berbagai sumber








Komentar
Re: Stimulasi dan Kecerdasan Anak
Kecerdasan bukan hanya meliputi kecerdasan secara intelektual saja, namun juga kecerdasan secara rohani, moral/sosial-emosional, & fisik/motorik. Bagaimana cara menstimulasi kecerdasan tersebut tergantung pada lingkungan kehidupan anak. Stimulasi yang berkualitas dan berkuantitas mampu mambentuk kecerdasan dalam diri anak yang berkualitas pula. Hal ini tidak lepas dari peran serta orang tua di rumah dan guru di sekolah serta tiap individu yang hidup di sekitar anak.yang saya ketahui semua aspek kecerdasan tidak hanya keharusan dapat distimulasi di sekolah saja, namun juga yang amat apenting adalah stimulasi di rumah, karena mayoritas kehidupan anak dilakukan di rumah.
Re: Stimulasi dan Kecerdasan Anak
menurut kamus bahasa Indonesia, kecerdasan berasal dari kata cerdas yang artinya:(1)sempurna akal budinya(untuk berpikir, mengerti), tajam pikiran, (2)sempurna pertumbuhan tubuhnya(sehat,kuat). selanjutnya, kata kecerdasan dapat diartikan sebagai suatu hal yang cerdas, kesempurnaan perkembangan akal budi(ketajaman, akal pikiran). selama ini kata kecerdasan lebih dipahami sebagai cerminan dari potensi intelegensi atau intelektual seseorang. secara lebih komprehensif seorang tokoh yang bernama Gardner dengan teorinya tentang Multiple Intelligence talah memicu berkembangnya kecerdasan-kecerdasan baru selain kecerdasan intelektual. kecerdasan-kecerdasan itu antara lain: kecerdasan visual-spasial, kecerdasan linguistik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan intra-interpersonal, dan kecerdasan naturalis.